Work Environment: Perspektif Industri Jepang February 1, 2008
Posted by admin in : Benchmark, Improvement, Survey , trackbackLingkungan kerja merupakan salah satu requirement baru yang masuk dalam persyaratan standar international dalam quality system. Sebelumnya belum ada klausul spesifik yang membahas mengenai persyaratan untuk mengendalikan work environment.

Yang pertama kali melakukan implementasi pengendalian work environment dengan intensif sebagai satu kesatuan manajemen sistem mereka adalah perusahaan-perusahaan jepang. Mereka memiliki program spesifik untuk melakukan hal ini, mereka menyebutnya 5S (di Indonesia mungkin lebih dikenal dengan nama 5R ”Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin”).
Mereka mengklaim perusahaan yang mau maju harus bisa menciptakan budaya industri pada karyawan-karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Menciptakan budaya industri ini hanya bisa dilakukan dengan melakukan pengendalian terhadap lingkungan kerja. Sebab di kebanyakan di negara yang belum maju industrinya biasanya masih terbiasa dengan budaya agraris.
Notes: Budaya agraris biasanya masih menghargai waktu dalam hitungan musim,bulan atau minggu. Dimana aktivitas mereka ditentukan oleh musim. Musim tanam, musim panen, musim pancaroba kalau Anda terlambat satu minggu atau hari mungkin panen Anda masih tidak akan terpengaruh.
Dalam budaya industri tidak bisa lagi menghargai waktu dalam hitungan minggu, dalam hitungan hari, dalam hitungan jam. Dalam budaya industri sudah menuntut kita menghargai waktu dalam hitungan menit bahkan detik. Anda tidak bisa datang terlambat ke tempat kerja Anda dalam hitungan hari kan?
Mesin downtime dalam hitungan menit saja sudah sangat mempengaruhi kinerja total dari perusahaan. Pencarian barang di gudang untuk dikirim ke pelanggan tidak mungkin dalam hitungan hari. Dalam hitungan jam saja mungkin jika Anda adalah petugas gudang sudah mendapat komplain dari rekan-rekan kita lainnya. Budaya industri menuntut kita untuk bergerak lebih cepat dan efisien.
Ketika seseorang masih dalam bangku sekolah ia hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri, jika ia tidak masuk kuliah, atau tidak belajar pada saat ujian maka yang merasakan konsekuensinya adalah dirinya sendiri. Namun ketiak seseorang bekerja ia tidak hanya bertanggung jawab pada diri sendiri tapi juga rekan-rekan kerjanya contoh jika ia tidak merawat mesin kerja yang dipakai bersama dengan rekan kerjanya maka jika terjadi kerusakan maka yang terkena konsekuensinya bukan hanya ia saja tapi juga rekan kerjanya dan bahkan departemen yang menerima pekerjaannya. Jika ia tidak meletakkan barang dengan rapih maka berakibat rekan kerja yang lain akan kesulitan mencari dan pastinya memakan waktu. Jadi budaya Ringkas, Rapih, Resik, Rawat, Rajin merupakan persyaratan mutlak dalam budaya industri.
Dengan menciptakan budaya ini maka semua terbiasa untuk menghargai waktu dan rekan kerjanya sehingga dapat meningkatkan kecepatan dan juga mengurangi kesalahan-kesalahan yang kecil seperti barang rusak karena penempatan tidak teratur, mesin downtime karena kebersihan tidak terjaga, kesalahan pembuatan produk karena identifikasi atau peletakan yang salah.
Comments»
Membayangkan lingkungan kerja, anda tdk perlu memberikan yang rumit dulu, dan kita terlalu menganggap lingkungan kerja ini tdk penting dan hal yang sepele.
Dalam sistem mutu, lingkungan kerja terkait dgn klausul 7.1. juga, dimana dia tdk bisa dipisahkan dari persyaratan proses utk produk yang bagus.
Ketika kita hendak memasang kancing baju, maka terangnya lampu adalah hal sepele yang bisa membuat hasil salah.
ini juga aspek lingkungan kerja.
Saya tertarik dengan ulasan ini.
Setahu saya ‘work environment’ diterapkan dengan diberlakukannya sistem pengolahan limbah di dalam perusahaan. Sayangnya tidak semua perusahaan mampu melakukan hal itu sehingga limbahnya diolah kepada pihak kedua yaitu pengolah limbah.
Pertanyaan saya adalah apakah Bpk mengetahui beberapa badan pengolah limbah yang diakui dan memiliki reputasi yang baik?
Bila ya, maka kami akan melakukan segera.