jump to navigation

Badan Sertifikasi Internal? July 28, 2008

Posted by admin in : Audit, Benchmark, Best Practice, Certification , add a comment

Ini untuk menjawab pertanyaan dari rekan QMS Aficionado. Cukup menarik untuk dibahas! :)

Seandainya suatu perusahaan membangun standar sistem mutu sendiri (bukan ISO, bukan SNI, dll), bolehkan perusahaan tersebut bertindak sebagai “badan sertifikasi” berdasarkan standar mutu tsb? Sbg contoh, supplier harus lulus sertifikasi untuk bisa memasok di perusahaan tsb.
Pertanyaan selanjutnya, bolehkan perusahaan tsb menunjuk unit regional di bawahnya sebagai badan sertifikasi? Artinya, induk perusahaan bertindak sbg “badan akreditasi”, sekali lagi menggunakan standar mutu versi internalnya.
Bagaimana keterkaitannya atau keabsahannya jika ditinjau dari KEPRES ttg BSN dan AKN?

Basically IT WONT BE A PROBLEM. tinggal sejauh mana fungsi dari sertifikasi tsb dan juga kredibilitas perusahaan.

Contoh saja, dari pengetahuan kami ada bbrp perusahaan multinasional yang membuat standar tersendiri, kalo perusahaan saya namanya ABCD, maka akan ada ABCD Quality System Standard, yang isinya bisa jadi sama dengan ISO 9001:2000, hanya saja ada adjustment sesuai kebutuhan ABCD. Kemudian ABCD memberikan sertifikasi kepada supliernya untuk kepentingan internal. Tidak ada masalah sama sekali.

Yang tidak tepat adalah ABCD mengeluarkan sertifikasi ISO untuk perusahaan lain dengan judul ISO 9001:2000 Certification.

Berhubungan dengan kredibilitas perusahaan dan specific-industry dimana kita bersaing, bisa saja sertifikasi ABCD tsb LEBIH BERNILAI dari pada ISO. Contohnya, (ingat, ini hanya contoh), perusahaan kita disertifikasi oleh Boeing untuk “Boeing Quality System”, dan kemudian kita menggunakan sertifikasi ini untuk mendapatkan order dari perusahaan skala yang lebih kecil yang relevan dengan Boeing (industri pesawat jet).

Menarik?

Work Environment: Perspektif Industri Jepang February 1, 2008

Posted by admin in : Benchmark, Improvement, Survey , 2comments

Lingkungan kerja merupakan salah satu requirement baru yang masuk dalam persyaratan standar international dalam quality system. Sebelumnya belum ada klausul spesifik yang membahas mengenai persyaratan untuk mengendalikan work environment.

Yang pertama kali melakukan implementasi pengendalian work environment dengan intensif sebagai satu kesatuan manajemen sistem mereka adalah perusahaan-perusahaan jepang. Mereka memiliki program spesifik untuk melakukan hal ini, mereka menyebutnya 5S (di Indonesia mungkin lebih dikenal dengan nama 5R ”Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin”).

Mereka mengklaim perusahaan yang mau maju harus bisa (more…)

JD Power Asia Pacific - Indonesia Initial Quality Study December 28, 2007

Posted by admin in : Audit, Automotive, Benchmark, News , 1 comment so far


Singapore: 29 November 2007 – 3 model Toyota dan 2 model Nissan mendapatkan ranking tertinggi di segmen mereka masing-masing menurut J.D Power Asia Pasifik 2007.

Laporan dari J.D. Power mengukur problem yang dialami pelanggan terhadap kendaraan mereka pada saat 2-6 bulan sejak pembelian. Hal ini mencakup 200 masalah mencakup komponen komponen: eksterior kendaraan, pengalaman berkendara, fitur, panel kontrol dan display, audio, entertainment(hiburan) dan navigasi, tempat duduk, pemanas, ventilasi dan penyejuk, interior kendaraan, dan mesin dan transmisi.

PP100 adalah ukuran yang digunakan oleh JD Power untuk melihat kualitas dari merek kendaraan yang disurvey. PP100 adalah indikator jumlah masalah dalam 100 kendaraan selama 2-6 bulan pertama (jumlah masalah/defect per 100 kendaraan, satu kendaraan bisa memiliki lebih dari satu masalah contoh bunyi pada mesin, lecet dll, selama 90 hari sejak pembelian). Semakin kecil nilai PP100 artinya jumlah masalah semakin sedikit dan itu otomatis berarti semakin baik.

Hasil dari setiap segmen

 

Premium Compact Car segment

Toyota Yaris (2 tahun berturut-turut) 98 PP100, diikuti oleh Suzuki SX4 106 PP100 dan Honda Jazz 124 PP100.

 

Midsize Car

Redesigned Toyota Vios(2 tahun berturut-turut) 109 PP100. Honda Civic 127 PP100, Honda City 131 PP100.

 

Entry SUV

Toyota Rush 153 PP100, Daihatsu Terios 179 PP100, Isuzu Panther 203 PP100

 

SUV

Nissan X-trail 85 PP100, Toyota Fortuner 95 PP100, redesigned Honda CR-V 105 PP100

 

MPV

Nissan Grand Livina 111 PP100, Toyota Kijang Innova 124 PP100 dan Daihatsu Xenia 183 PP100.

 

Temuan Menarik

JD Power menemukan bahwa, dalam rata-rata, pemilik kendaraan baru di Indonesia mengalami 1,6 masalah (160 PP100) dalam waktu 2-6 bulan kepemilikan. Masalah yang terkait mengenai mesin dan transmisi adalah masalah yang paling sering dilaporkan, berkontribusi terhadap 31 persen dari seluruh masalah yang ditemukan. Masalah kedua yang sering dilaporkan adalah kesulitan berpindah gigi (untuk mobil manual) dan penggunaan bensin yang tidak irit. Sebagian besar dari pelanggan Indonesia (71%) melaporkan mengalami paling sedikit 1 masalah dengan kendaraan mereka pada awal 2-6 bulan kepemilikan awal.

 

“Menemukan masalah pada kendaraan baru, terutama di masa awal kepemilikan secara negatif berdampak kepada opini pelanggan mengenai produk, dan juga mempengaruhi kesetiaan dan kemungkinan untuk memberikan rekomendasi” menurut Rajeev Nair, Country manager pada JD. Power Asia Pasifik, Singapore. 45% customer yang tidak mengalami masalah terhadap kendaraan mereka menyatakan bahwa mereka secara pasti akan merekomendasikan model yang mereka beli kepada teman atau saudara, Proporsi ini menurun hanya menjadi 25% dibandingkan pemiliki kendaraan yang mengalami masalah. Ini merupakan hal yang penting karena pembeli kendaraan baru 62% menyatakan bahwa mereka mengandalkan informasi dari teman atau saudara ketika memutuskan untuk membeli merek atau tipe mobil baru.

 

Indonesia IQS 2007 dihitung berdasarkan evaluasi dari 2.796 pemiliki kendaraan yang membeli kendaraan mereka antara Oktober 2006 dan Juni 2007. Penelitian mencakup 50 kendaraan penumpand dan 14 kendaraan utility. Studi dilakukan dari April s/d Agustus 2007.

News: Siloam Hospital Lippo Karawaci Raih Akreditasi JCI November 15, 2007

Posted by admin in : Benchmark, Best Practice, Certification, Health Care, Improvement, News , 2comments

RS Siloam Lippo Karawaci

Ternyata, pengembangan organisasi tidak boleh berhenti pada satu titik. Selalu ada celah untuk perbaikan, dan selalu ada pendekatan yang lebih baik. Minggu ini kami diinformasikan oleh rekan kami mengenai pencapaian RS Siloam Lippo Karawaci yang meraih akreditasi JCI. Berikut cuplikan beritanya. (more…)