JD Power Asia Pacific - Indonesia Initial Quality Study December 28, 2007
Posted by admin in : Audit, Automotive, Benchmark, News , 1 comment so far
Laporan dari J.D. Power mengukur problem yang dialami pelanggan terhadap kendaraan mereka pada saat 2-6 bulan sejak pembelian. Hal ini mencakup 200 masalah mencakup komponen komponen: eksterior kendaraan, pengalaman berkendara, fitur, panel kontrol dan display, audio, entertainment(hiburan) dan navigasi, tempat duduk, pemanas, ventilasi dan penyejuk, interior kendaraan, dan mesin dan transmisi.
PP100 adalah ukuran yang digunakan oleh JD Power untuk melihat kualitas dari merek kendaraan yang disurvey. PP100 adalah indikator jumlah masalah dalam 100 kendaraan selama 2-6 bulan pertama (jumlah masalah/defect per 100 kendaraan, satu kendaraan bisa memiliki lebih dari satu masalah contoh bunyi pada mesin, lecet dll, selama 90 hari sejak pembelian). Semakin kecil nilai PP100 artinya jumlah masalah semakin sedikit dan itu otomatis berarti semakin baik.
Premium Compact Car segment
Toyota Yaris (2 tahun berturut-turut) 98 PP100, diikuti oleh Suzuki SX4 106 PP100 dan Honda Jazz 124 PP100.
Midsize Car
Redesigned Toyota Vios(2 tahun berturut-turut) 109 PP100. Honda Civic 127 PP100, Honda City 131 PP100.
Entry SUV
SUV
Nissan X-trail 85 PP100, Toyota Fortuner 95 PP100, redesigned Honda CR-V 105 PP100
MPV
Nissan Grand Livina 111 PP100, Toyota Kijang Innova 124 PP100 dan Daihatsu Xenia 183 PP100.
Temuan Menarik
JD Power menemukan bahwa, dalam rata-rata, pemilik kendaraan baru di
“Menemukan masalah pada kendaraan baru, terutama di masa awal kepemilikan secara negatif berdampak kepada opini pelanggan mengenai produk, dan juga mempengaruhi kesetiaan dan kemungkinan untuk memberikan rekomendasi” menurut Rajeev Nair, Country manager pada JD. Power Asia
Indonesia IQS 2007 dihitung berdasarkan evaluasi dari 2.796 pemiliki kendaraan yang membeli kendaraan mereka antara Oktober 2006 dan Juni 2007. Penelitian mencakup 50 kendaraan penumpand dan 14 kendaraan utility. Studi dilakukan dari April s/d Agustus 2007.
RS Didenda Gara-gara Dokter Salah Operasi Kepala November 28, 2007
Posted by admin in : Customer Satisfaction, Health Care, Improvement, News, Poor but True, Service Quality , add a comment
Sebuah kutipan dari kompas.com hari ini:
PROVIDENCE, SELASA - Rumah Sakit Rhode Island didenda $50.000 dan ditegur Departemen Kesehatan setelah tiga kali dalam setahun ada dokter salah mengoperasi otak pasien. “Kami sangat prihatin dengan pola yang tidak berubah ini. Meski rumah sakit ini telah mengembangkan ruang operasi, tetapi itu tidak dikembangkan ke wilayah lain rumah sakit ini,” ujar David R Gifford, Direktur Kesehatan, Senin (26/11).
Kasus terakhir terjadi Jumat (23/11). Menurut Departemen Kesehatan, ketua tim mulai membedah otak di sisi yang salah di kepala seorang pasien berusia 82 tahun. Untunglah keadaan si pasien baik-baik saja.
Februari lalu, dokter berbeda melakukan bedah saraf dari sisi yang salah di kepala seorang pasien, kata Andrea Bagnall-Degos, juru bicara departemen kesehatan. Si pasien juga tidak apa-apa.
Lebih parah yang terjadi pada Agustus. Seorang pasien meninggal setelah dokter ketiga mengoperasi sisi kepalanya yang salah. Insiden itu memicu peringatan dari negara bagian agar rumah sakit itu memastikan kesalahan yang sama tidak terjadi lagi. Pihak rumah sakit juga harus melakukan evaluasi terhadap praktik bedah saraf dan melakukan verifikasi lebih baik terhadap rencana kerja para dokter bedah.(AP/SAS)
Jika hanya sekadar membaca berita, mungkin kita masih bisa “…ck ck ck…, gawat bener rumah sakitnya!…”, tetapi jika kita membayangkan bahwa kita adalah pasiennya (korban), maka kita akan makin memahami bahwa pelayanan (dan produk) yang buruk bukan hanya mengenai kinerja organisasi kita, tetapi mengenai apa yang dirasakan oleh pelanggan kita. Sudahkan Anda mencoba merasakan apa yang dirasakan pelanggan Anda?
News: Siloam Hospital Lippo Karawaci Raih Akreditasi JCI November 15, 2007
Posted by admin in : Benchmark, Best Practice, Certification, Health Care, Improvement, News , 2comments
Ternyata, pengembangan organisasi tidak boleh berhenti pada satu titik. Selalu ada celah untuk perbaikan, dan selalu ada pendekatan yang lebih baik. Minggu ini kami diinformasikan oleh rekan kami mengenai pencapaian RS Siloam Lippo Karawaci yang meraih akreditasi JCI. Berikut cuplikan beritanya. (more…)
Kuil Hindu Disertifikasi ISO 9001:2000 October 19, 2007
Posted by admin in : Certification, Customer Satisfaction, ISO 9001, News, Service Quality , add a commentKuil Hindu yang berumur lebih dari seratus tahun (117 tahun tepatnya) di Malaysia mungkin menjadi kuil pertama yang mendapatkan sertifikasi internasional ISO 9001:2000.
Berdasarkan kutipan kantor berita Malaysia “Bernama”, Kuil Sri Sundaraja Perumai di Klang, sedikit di luar Kuala Lumpur, mendapatkan ISO 9001:2000 sertifikasi di bulan November 2006 dengan scope/ruang lingkup : Religious, Cultural and Social Services.
Terlihat dalam gambar Menteri Tenaga Kerja Malaysia S. Samy Vellu (kiri) sebagai perwakilan yang menyerahkan sertifikat ISO 9001:2000 tersebut dan Presiden/Kketua Kuil S. Anandakrishnan.

Menurut Anandakrishnan, selama 3 tahun administrasi di kuil tersebut bekerja keras untuk mendapatkan sertifikasi. Hal ini mereka lakukan dengan mempersingkat dan menstandardisasi pekerjaan harian yang mereka lakukan di kuil.
Pura Sundaraja dikenal dengan sebutan “Thirupati of South East Asia”.
Notes: QMS Guys melakukan research apa yang dimaksud Thirupati, ternyata Thirupati adalah tempat atau kota suci yang terletak di Andra Pradesh India. Yang lebih mengejutkan lagi buat kami ternyata Thirupati merupakan kota suci yang memiliki pengunjung terbesar di dunia, bahkan lebih besar dibandingkan Vatikan atau Jerusalem atau Mekah. Dapat Anda bayangkan?
“Kuil lainnya tidak diwajibkan untuk mengikuti Standard Operating Procedure kami, tapi kami ingin menjadi benchmark, jadi setiap orang mengetahui kami memberikan pelayanan yang berkualitas dalam kepercayaan religius.” kata Anandakrishnan.
Panduan standard disediakan untuk aktivitas-aktivitas seperti pemesanan ruangan pernikahan dan apa yang boleh dilakukan serta yang tidak dibolehkan oleh pendeta hindu ketika melakukan doa.
Di Malaysia penduduk yang menganut agama Hindu mencapai 10% dari populasi.
Sumber: India eNews, Wikipedia